Diberdayakan oleh Blogger.
Bali
Bali Good
Bali Dewata
Tampilkan postingan dengan label Sarana Upacara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarana Upacara. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2011

Penjor, Ungkapan Syukur atas Kehidupan dan Keselamatan

Oleh: Agung Bawantara

Penjor adalah sebatang bambu utuh dari pangkal hingga ujung yang dihias dengan pucuk enau atau janur yang diukir. Pada batang bambu tersebut juga digantungkan berbagai jenis hasil bumi yakni padi, pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (kelapa, mentimun, pisang, nanas), pala wija (jagung), kue dan tebu. Pada ujung bambu, digantungkan sampyan, yakni sebuah rakitan janur berbentuk seperti cupu dengan beraneka bunga dan porosan di dalamnya. Porosan adalah setangkup sirih pinang yang dikemas dengan potongan janur sepanjang ruas jari. Sebagai pelengkap, pada lengkungan penjor juga digantungkan dua lembar kecil kain berwarna putih dan kuning serta sebelas uang kepeng.

Penjor merupakan sarana upacara yang biasanya ditancapkan di depan rumah penganut Hindu di Bali terutama pada Hari raya Galungan – Kuningan. Penjor juga menjadi kelengkapan pada upacara-upacara besar di Pura.

Sebagai sarana upacara, penjor dilengkapi dengan lamak, yaitu semacam taplak panjang dari daun enau yang dirajut dengan lidi bambu. Penjor juga dilengkapi dengan Sanggah yaitu rajutan bambu berbentuk bujur sangkar dengan atap melengkung (oval).

Secara filosofis penjor merupakan simbol dari gunung yang diyakini oleh umat Hindu di Bali sebagai tempat berkumpulnya fibrasi kesucian dari Hyang Widhi (Tuhan). Penjor juga menggambarkan sosok sepasang naga pemberi keselamatan (Naga Basuki) dan pemberi kehidupan (Naga Ananta Bhoga) yang merupakan simbol personifikasi dari Pertiwi atau tanah. Jadi, pemasangan penjor dimaksudkan sebagai wujudkan rasa bakti dan ucapan berterima kasih kepada Tuhan atas kemakmuran yang dilimpahkanNya.

Tafsir lain berdasarkan lontar “Tutur Dewi Tapini”, yaitu lontar yang menjadi acuan dalam membuat sesajen untuk upacara keagamaan di Bali, menyebutkan simbol-simbol dalam lontar adalah sebagai berikut:
- Bambu (dan kue) sebagai fibrasi kekuatan Dewa Brahma
- Kelapa sebagai simbol fibrasi Dewa Rudra
- kain Kuning dan Janur sebagai simbol fibrasi Dewa Mahadewa
- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol fibrasi Dewa Sangkara
- Pala bungkah dan pala gantung sebagai simbol fibrasi Dewa Wisnu
- Tebu sebagai simbol fibrasi Dewa Sambu
- Padi sebagai simbol fibrasi Dewi Sri
- Kain putih sebagai simbol fibrasi Dewa Iswara.
- Sanggah sebagai simbol fibrasi Dewa Siwa.
- Upakara sebagai simbol fibrasi Dewa Sadha Siwa dan Parama Siwa.

Semua Dewa tersebut merupakan personifikasi dari kekuatan-kekuatan Tuhan Yang Maha Satu.


Keterangan:
Foto-foto karya Widnyana Sudibia

Rabu, 16 Maret 2011

Lamak, Simbol Pijakan Menuju Kesejatian









Oleh : Agung Bawantara

Lamak adalah semacam taplak dari daun enau yang dirajut dengan lidi bambu. Lamak ditempatkan di ruang-ruang kecil pada bangunan-bangunan Pura di Bali yang dinamakan dengan palinggih sebagai alas untuk meletakkan bebanten (sajian persembahan). Dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno), kata lamak memang berarti alas. Penggunaan lamak sebagai alas sesajen umumnya pada hari-hari besar atau upacara-upacara penting Hindu di Bali.

Selain sebagai alas persembahan, lamak juga di pasang pada penjor. Penjor adalah kelengkapan upacara di Bali yakni sebatang bambu utuh (dari pangkal hingga ujung) yang dihias dengan daun enau muda atau janur lalu dilengkapi dengan berbagai hasil bumi berupa padi, palawija dan buah.

Dalam sebuah lamak terdapat berbagai ornamen keagamaan seperti gunungan, cili-cilian, bulan, bintang, matahari dan sebagainya. Semua itu melambangkan alam semesta yang menjadi pijakan kita menapaki hidup dalam sebuah pusaran waktu
menuju ke Kesejatian.

Dari sudut lain, dalam sebuah tulisannya yang menguls tentang penjor, Ida Bhagawan Dwija mengatakan bahwa lamak merupakan simbol dari Reg Weda, yakni bagian dari kitab suci Hindu yang mengajarkan tentang mantra-mantra pemujaan. Sayang Bhagawan Dwija tak mengelaborasinya lebih detil.

Keterangan Foto:

Dari kiri ke kanan, tiga foto pertama di atas menggambarkan beberapa lelaki Bali bersama-sama membuat lamak dalam ukuran panjang, lalu beberapa perempuan melanjutkannya dengan memberi ornamen. Foto terakhir menunjukkan proses pembuatan Penjor Agung, yakni penjor yang berukuran besar. Tingginya bisa mencapai 10-15 meter.

Semua foto di atas adalah karya I Made Widnyana Sudibia.