Diberdayakan oleh Blogger.
Bali
Bali Good
Bali Dewata

Minggu, 28 November 2010

Car Free Day di Legian Setiap Sabtu Malam

Oleh: Maria Ekaristi

Jalan Legian, pada hari Sabtu malam tanggal 27 November lalu tampak lain. Jalan yang biasanya sesak dan padat oleh lalu-lintas berbagai merek dan jenis kendaraan bermotor, malam itu hanya dipadati orang lalu-lalang. Hanya sesekali tampak sepeda melintas di sela-sela ratusan pejalan kaki yang tampak senang menikmati suasana malam di kawasan pusat hiburan tersebut.

Ada apakah gerangan? Tak lain karena di ruas jalan tersebut diberlakukan Car Free Day (CFD) yang dimulai sejak pukul 22.00 hingga pukul 05.00 keesokan harinya. Pemberlakuan CFD di jalan sepanjang satu kilometer ini diprakarsai oleh Kepala kepolisian Sektor Kuta, AKP Gede Ganefo, bekerjasama dengan Desa Adat setempat. Pelarangan menggunakan kendaraan bermotor tersebut dimulai sejak pertigaan Jalan Patih Jelantik, belok kiri ke Jalan Legian melewati Ground Zero dan berakhir di pertigaan Jalan Pantai.

Gerakan yang sarat dengan pesan pelestarian lingkungan ini didukung oleh semua gerai, toko, tempat hiburan, hotel dan fasilitas wisata lainnya di sepanjang jalan tersebut. Untuk mengarahkan para pengendara mobil dan sepeda motor serta untuk menjaga ketertiban di areal tersebut, tampak beberapa Pecalang yaitu petugas keamanan khas Bali bersama Aparat Kepolisian berjaga di beberapa titik penting.

Untuk menampung kendaraan pelancong yang hendak berbelanja atau menuju tempat-tempat hiburan yang terdapat di Jalan Legian, Pecalang dan Aparat Kepolisian tersebut mengarahkan mereka ke lahan-lahan parkir yang telah disediakan antara lain di Pasar Pagi Legian, Simpang Empat Legian, Lapangan Trisakti, areal depan Pura Dalem (Jalan Patih Jelantik) dan di sebelah timur SD 3 Legian. Agar tertib dan aman, lokasi parkir itu pun dijaga dan diawasi oleh Pecalang dan Aparat Kepolisan.

Pemberlakukan CFD di Jalan Legian tergolong unik, sebab dilakukan pada malam hingga pagi hari. Padahal di kota-kota lain di Bali bahkan di Indonesia, CFD umumnya diselenggarakan sejak pagi hingga siang hari.

Namun ada perkecualian dalam pelaksanaan CFD di Jalan Legian ini yakni bagi kendaraan yang mengantar tamu check in maupun check out dari hotel-hotel di kawasan tersebut. Juga bagi ambulance dan mobil patroli kepolisian.

Tempat-tempat hiburan yang terdapat di sepanjang ruas Jalan Legian ini antara lain Al, Vi Ai Pi, Paddys, Bounty, Apache, Maccaroni, dan Engine Club.

Foto: repro Radar Bali

Senin, 15 November 2010

Ramai Rasa Ramen di “Rame-Rame Ramen”

Oleh: Maria Ekaristi

Saat memasuki resto ini saya langsung mendapat sapaan ramah dalam bahasa Jepang. Meski tidak paham benar artinya, saya langsung membalasnya dengan ucapan terimakasih sambil membungkuk seperti yang biasa dilakukan orang-orang Jepang saat membalas salam. Semua petugas restoran itu tertawa melihat polah saya. Deby, sang manager, balik membalas dengan gaya candanya yang lucu. Suasana pun seketika cair, dan saya seperti memasuki ruangan makan rumah saya sendiri.

Siang itu santap siang saya awali dengan semangkuk Kaiso Salad yang terdiri dari rumput laut, selada, tauge, timun dan tomat dengan saus asam. Rasa asam dari saus berpadu dengan rasa garam yang digunakan untuk merendam bahan-bahan salad, menyuguhkan kesegaran di lidah saya. Rasa lapar saya yang tadinya malas-malasan pun terusik. Segera dia menabuh genderang di perut dan membanjirkan air liur di rongga mulut. Nafsu makan saya pun seketika bergejolak. Maka ketika sepiring Harumaki, yaitu penganan semacam lumpia goreng dengan isi beragam sayuran dan jamur terhidang saya pun langsung mengganyangnya.

Setelah dua menu pembuka itu, menu utama berupa Ramen segera terhidang. Semuanya tak lebih dari 15 menit sejak saya memesannya. Ramen tak lain adalah mi dalam bahasa Jepang. Di resto ini ramen disajikan dengan berbagai olahan yang kemudian masing-masing diberi nama sesuai dengan cara dan bahan pengolahannya. Ada Tonkotsu Ramen, Chicken Ramen, Shoyu Ramen, Gomoku Ramen, Pork Tantanmen, Chicken Tantanmen, Hiyashi Chukka, Vegetarian Hiyashi Chuka, Ankake Yakisoba, Chilli Beef Ramen. Siang itu pilihan saya jatuh pada Chicken Ramen.

Chicken Ramen adalah sup mi khas Jepang yang disajikan dengan sayur kailan potongan halus bawang pre, irisan daging ayam dan potongan telur setengah matang dan diberi kuah. Kuah Chicken Ramen terbuat dari kaldu pekat daging ayam yang diproses selama hampir sepuluh jam. Pengolahan ini menghasilkan rasa yang sangat khas: gurihnya melekat di lidah.

Porsi yang cukup besar membuat perut saya penuh dan rasa lapar saya langsung terkulai lemas. Agar kenikmatannya tak segera hilang saya pun cepat-cepat mengakhiri santap siang itu dengan hidangan penutup berupa es krim Macha dan es krim Ogura. Es krim Macha adalah es krim teh hijau yang pekat. Rasanya sepat sedikit getir tapi menyegarkan kerongkongan. Rasa ini seperti mengunci rasa nikmat dari makanan utama yang telah saya lahap. Kemudian aroma harum dan rasa manis es krim Ogura yang terbuat dari kacang merah seperti memberi kesegaran dan semangat baru untuk melanjutkan aktivitas siang itu.

Oya, semua makanan yang tersaji tadi merupakan racikan Evan Lesmana mantan chef di sebuah hotel ternama di Jakarta. Evan dibantu oleh tiga orang koki lokal asal Bali yang handal. Kerena itu menu-menu yang disajikan di resto ini digemari oleh para wisatawan asing maupun domestik. Juga warga Jepang yang bermukim di Bali.

Mau mencoba? Datang saja ke “Rame Rame Ramen” di Jl. Sunset Road No. 1 Blok K Kuta. Letaknya di sebelah Utara Patung Dewa Ruci berdampingan dengan A Spa. Kalau mau pesan terlebih dahulu bisa melalui telepon 087860942128. Bila datang dari arah utara, anda harus memutari Patung Dewa Ruci lalu berbalik arah menuju utara. Resto ini buka setiap hari pada pukul 11.00 -24.00 WITA.

Harga seporsi ramen berkisar antara Rp42 ribu hingga Rp47 ribu.

Tanah Lot

Tanah Lot

Sawah Indah Ubud

Sawah Indah Ubud

Uluwatu

Uluwatu

Kintamani

Kintamani

KUTA BALI

KUTA BALI

Jati Luwih

Jati Luwih